Jumat, 26 September 2014

Dari Orang Yang Selalu Mengharapkanmu sebagai Tujuan

Kamu bilang kamu sudah muak dengan sikapnya yang tak pernah menganggapmu ada. Kamu bilang kamu mencintainya tapi dia mengabaikanmu dan kamu juga mencintaiku, tapi kamu lebih ingin bersamanya dibandingkan bersamaku.
Kenapa? kenapa saat kamu sedang berjauhan dengan nya kamu malah mendekatiku, kamu malah berlari kearahku. Lalu setelah kau dengannya berdekatan lagi kau malah menjauhiku, seolah baik-baik saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita.
Masih kurang siagakah aku untukmu? Siapa aku dimatamu? Pentingkah aku untukmu? Lihatlah aku, lihatlah kearahku, aku adalah orang yang selama ini setia mendengar keluh kesah tentangmu, tentangnya; tentang perempuan itu.

Aku adalah orang yang siap membelamu di kala semua orang menyalahkanmu. Tapi, apa pedulimu? Kamu tak pernah perduli pada perasaanku. Kamu hanya perduli dengan perasaanmu sendiri, kamu egois!
Aku benci harus mengatakan ini, aku benci ketika kau datang menghampiriku dengan wajah kesal, marah, terluka dan kau ceritakan keegoisan dan semua tentangnya.
Untuk apa kau datang hanya untuk pergi lagi? Aku bukan halte yang bisa kau singgahi kapan saja. perempuan yang tak tau diri ini juga punya hati tuan.
Tidak kah kau mengerti? Saat kau datang menghampiriku lalu kau menceritakan semua kekesalan dan kekecewaan mu terhadapnya; saat itu aku benar-benar ingin memelukmu, aku benar-benar ingin memberimu semangat (semangat yang akan terus ku ucapkan di pagi harimu), aku ingin menenangkanmu dengan hangatnya pelukanku, tapi aku tak seberani itu tuan. Aku tak seberani itu..
Kadang aku lelah dengan ketidakpastian ini, sampai kapan kau seperti ini? Cobalah buka mata mu perempuan itu tak baik untukmu! Kenapa kau terus mempertahankannya dan mengabaikan aku?
Apakah dia lebih baik dariku? Tentu TIDAK bukan? Tentu aku yang lebih baik untukmu!
Aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku harus melupakan semua tentang kita? Semua tentang kedekatan kita yang terjalin saat kau berjauhan dengannya? Rasanya aku tak kuat lagi tuan, aku tak bisa menahan perasaan yang seringkali menghinggap di pikiranku..
Aku mencintaimu tuan, sangat menggilaimu. Dan sampai kapan kau sadar hanya ada aku perempuan yang rela mendengarkan semua lelahmu. Perempuan yang rela di jadikan sasaran kemarahanmu, yang selalu memahami apa mau mu.

Sekali lagi aku harus bagaimana tuan?!
Aku tidak perduli ketika kau baca tulisan ku ini pasti kau menganggapku perempuan bodoh, perempuan tolol, perempuan tidak tahu diri, kau juga pasti mentertawaiku dan berfikir masih adakah perempuan tolol yang seperti itu (tapi rasanya kau tak akan membacanya dan kau juga tak akan punya waktu untuk itu).
Aaahhh... aku tak perduli, aku sudah menelan semua gengsiku. Aku ceritakan sosokmu di akun sosial pribadi milikku. Agar ku harap kau bisa membacanya, karena aku tak bisa langsung mengutarakan nya padamu tuan..
Aku ingin kamu disini..
Tuan aku ingin membahagiakanmu, cepatlah berjalan ke arahku dan jangan pergi lagi.
Aku ingin membahagiakanmu sampai aku tertidur dan terbujur kaku di tanah. Aku ingin memilikimu seutuhnya.
Pulanglah, kau pasti tau arah jalan pulang. Kau pasti tau dimana rasa sayangmu itu kau labuhkan.



Dari seseorang,
yang tidak tahu diri
yang sangat mencintaimu, menggilaimu
yang cintanya kau abaikan
tapi tetap mengharapkanmu sebagai tujuan